Minggu, 23 Desember 2012

RETORIKA



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia pasti melakukan kegiatan komuniksi untuk berinteraksi dengan orang lain. Komunikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara langsung maupun tidak langsung. Kegiatan berkomunikasi secara langsung seperti berbicara merupakan komunikasi yang dilakukan dengan cara tatap muka berupa ujaran yang berbentuk bunyi bahasa serta tanggapan menyimak pada informasi yang disampaikan dapat ditangkap secara langsung dan mudah dipahami, berbeda dengan komunikasi tidak langsung yaitu kegiatan komunikasi secara tertulis yang disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain. Namun di dalam makalah ini yang akan dikupas adalah ilmu tentang keterampilan berbahasa yang indah dan mengandung unsur seni melalui berbicara. Menurut Aristoteles seorang filsuf yang terkenal mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan menemukan secara persuatif dan objek suatu kasus. Pengetahuan mengenai ilmu atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta keberhasilan seni atau praktek berbicara.  Berbicara dimuka umum, debat, diskusi kelompok, argumentasi, menekankan penerapannya sebagai keterampilan berbahasa dan memandang berbicara itu sendiri sebagai suatu seni. Untuk itu retorika sangat bermanfaat dalam bidang politik, bidang usaha, karyawan bahasa, bidang kesenian dan bidang pendidikan. Studi retorika muncul pertama kali di Sarakusa ibu kota Pulau Sisilia daerah kekuasaan Yunani sekitar abad ke-5 sebelum Masehi. Setelah melewati berbagai macam zaman dan keragaman, pengertian retorika ini tidak lain dari penyempitpatan pengertian retorika itu sendiri. Semua kegiatan yang memakai bahasa sebagai sarana dasar dapat digolongkan ke dalam kegiatan berbicara. Retorika dapat dibatasi sebagai teori dan praktek kemahiran berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Retorika peranannya cukup penting dalam masyarakat. Kegiatan inilah yang membedakan manusia berbeda dengan makhluk lain. Di samping itu, retorika juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tanpa kemampuan berbicara, manusia tidak memiliki peradaban dan kebudayaan.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan menjadi bahan kajian pada makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah manfaat retorika dalam bidang pendidikan??
2.      Bagaimana tahap-tahap persiapan pidato?
 1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Dengan adanya makalah yang berjudul Retorika dapat mengetahui peran dan manfaat suatu keterampilan berbahasa salah satunya adalah berbicara sebagai ilmu dan seni.
2.      Penulis mengiginkan makalah ini menjadi bahan bacaan yang menarik bagi para pembaca.
3.      Penulis berharap makalah ini dapat menjadi bahan materi pada  mata kuliah berbicara dan dalam tugas yang sama.
1.4  Manfaat Penulisan
Bagi Penulis
·         Dengan menulis makalah ini, penulis setidaknya telah mengetahui bagaimana berbicara yang sebagai salah satu keterampilan berbahasa dapat diterapkan peletakkannya sebagai suatu ilmu dan seni.
·         Penulis telah mengetahui bagaimana sejarah retorika dan apa itu retorika.
Bagi Pembaca
·         Makalah ini dapat dijadikan bahan bacaan yang menarik.
·         Makalah ini dapat dijadikan bahan materi pada mata kuliah berbicara.









BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah dan Pengertian Retorika
Retorika memegang peranan penting dalam kegiatan berbicara. Hal ini sudah lama disadari dibelahan bumi bagian barat. Berdasarkan peninggalan tertulis bangsa Yunani ternyata masalah ini sudah dikenal sejak abad ke-5 sebelum Masehi. Studi retorika ini akhirnya mempengaruhi perkembangan kebudayaan Eropa dari zaman ke zaman sampai abad ke-7 Masehi.
            Studi retorika muncul pertama kali di Sarakura ibu kota Pulau Sisilia, daerah kekuasaan Yunani sekitar abad ke-5 sebelum Masehi. Retorikus pertama yang mempelajarinya bernama Corax. Corax dengan muridnya Tissias mengemukakan bahwa retorika tidak lain dari kecakapan berpidato di depan umum. Pidato di depan umum, pidato lain tidak berhak disebut retorika. Kecakapan ini bisa dikuasai dengan mempelajari persoalan-persoalannya dan kemudian dimantapkan dengan kekuatan berlatih. Retorika Corax dan Tissias yang kemudian berkembang di Semenanjung Attic (Yunani), sehingga retorika ini lebih dikenal dengan retorik Attic. Corax menulis makalah retorika, yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata). Walaupun makalah ini sudah tidak ada, dari para penulis sezaman, kita mengetahui bahwa dalam makalah itu ia berbicara tentang ‘tekhnik kemungkinan’. Di samping tekhnik kemungkinan Corax meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian : pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan. Dari sini, para ahli retorika kelak mengembangkan organisasi pidato.
            Lain lagi pengertian retorika yang dikemukakan oleh kaum Sofis menjelang akhir abad ke-5 sebelum Masehi. Tokoh yang menonjol dari golongan ini antara lain Gorgias, Lycias , Phidias Protogoras, dan Isocrates. Menurut mereka retorika tidak lain dari alat untuk memenangkan suatu kasus lewat bertutur, asal saja tutur tersebut berdasarkan petunjuk-petunjuk retorika yang telah digariskan oleh kaum Sofis seperti kepandaian memainkan ulasan, kefasihan berbahasa, pandai memanfaatkan emosi penanggap tutur, dan terahir keseluruhan tutur harus ditujukan untuk mencapai kemenangan. Retorika menurut kaum Sofis ini tidak lain dari sarana tutur yang efektif untuk mencapai suatu kemenangan. Dalam abad modern ini dasar-dasar retorika Sofis kelihatan dimanfaatkan dalam hal-hal tertentu seperti propaganda, indoktrinasi, agitasi, kampanye, dan terlihat juga dalam reklame.
            Aristoteles adalah seorang filsup yang menyelamatkan retorika dari pengertian yang kurang baik sebagai akibat dari ajaran kaum Sofis. Menurut Aristoteles retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan menemukan secara persuatif dan objektif suatu kasus. Retorika bertujuan meyakinkan pihak lain akan kebenaran kasus yang dibicarakan. Keyakinan akan kebenaran kasus merupakan tujuan akhir. Berbeda dengan kaum Sofis yang mempunyai tujuan terahir memenangkan kasus.
Dalam hal ini Aristoteles mengemukakan 4 fungsi retorika yaitu :
1.      Menurut orang mengambil keputusan dalam menghadapi berbagai kemungkinan memecahkan suatu kasus.
2.      Membimbing orang memahami kondisi kejiwaan penanggap tutur.
3.      Memimpin orang menganalisis kasus secara sistematis objek untuk menemukan secara persuasif  yang efektif untuk meyakinkan orang,dan
4.      Mengajarkan cara-cara yang efektif untuk mempertahankan gagasan.
Untuk meyakinkan orang akan kehadiran retorika sebagai ilmu, Aristoteles telah menyusun tiga buah buku yang berjudul retorik. Dalam ketiga bukunya itu Aristoteles  telah mengupas secara panjang lebar berbagai masalah yang termasuk ruang lingkup retorika. Ia menekankan bahwa retorik adalah suatu pokok persoalan (subjek) yang digambarkan secara sistematis sebagaimana halnya dengan ilmu-ilmu yang lain. Retorika telah menggariskan prinsip-prinsip filosofis ilmiah untuk mempersuasikan kebenaran kepada pihak lain. Prinsip-prinsip ini akan membina keterampilan seseorang menemukan sarana persuasi yang objektif dari suatu kasus.
            Pada abad ke-17 retorika mengalami kemunduran. Faktor dilukiskan tanpa hiasan herbal. Tetapi pada tahun 30-an lahir aliran positivisme yang kembali meminta perhatian tentang pentingnya mempelajari bagaimana bahasa itu dipergunakan. Sampai abad ke-20, ajaran-ajaran retorika Aristoteles ini tidak tergoyahkan. Ketentuan-ketentuan retorika yang telah digariskan oleh Aristoteles setelah 23 abad lebih telah berkembang menjadi tradisi dalam studi retorika. Oleh sebab itu retorika ini juga disebut retorika tradisional. Kalau zaman lampau retorika lebih menekankan pada seni berpidato, namun dengan kemajuan berteknologi misalnya penemuan mesin cetak, peranan retorika dalam wujud seni pidato merosot dan diganti dengan seni menggunakan bahasa secara tertulis.
            Pada abad pertengahan retorika kembali melihat pada zaman lampau. Sebagai unsur hiasan gaya sangat diperhatikan. Semakin banyak hiasan yang dipakai semakin baik gayanya. Akibatnya, timbul pujaan akan gaya bahasa dan etimologi akan gaya-gaya bahasa individual. Pada zaman renaisance timbul dua aliran, yaitu aliran humanisme dan aliran ramisme. Aliran humanisme mengangkat kesuastraan rakyat sebagai suatu prestasi yang harus diberi penghargan. Sedangkan aliran Ramisme dengan tokohnya Petrus Ramus atau Pierala Rame mengingatkan bahwa penulis-penulis harus mengembangkan subjek yang bertalian dengan jenis, macam, sebab, akibat, dispoposio (penyusunan pidato) sehingga retorika mencakup dua aspek, yaitu jalinan kata-kata dan pembawaan pidato dengan bahasa lisan atau dengan kata lain pidato. Dengan demikian, akhirnya pengertian retorika ini tidak lain dari penyempitan pengertian retorika, semua kegiatan yang memakai bahasa sebagai sarana dasar dapat dikelompokan dalam kegiatan berbicara. Retorika dapat dibatasi sebagai teori dan praktek kemahiran berbahasa, baik lisan maupun tulisan. Retorika bertujuan menerangkan kaidah-kaidah yang menjadi landasan dari menulis dan bertutur untuk menpengaruhi sikap dan perasaan seseorang. Retorika membicarakan prinsip-prinsip yang fundamental untuk menyusun sebuah wacana. Perananya cukup penting dalam masyarakat, disamping itu retorika juga mempunyai peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Tanpa kemampuan berbicara, manusia tidak memiliki peradaban dan kebudayaan.
2.2 Retorika dan Pendidikan
Retorika dapat dimanfaatkan secara terencana, maksudnya secara sadar sebelumnya diarahkan ke suatu tujuan yang jelas. Dalam hal ini pembicara banyak berpegang pada prinsip-prinsip yang digariskan oleh para ahli retorika. Pemanfaatan retorika terencana ini misalnya dalam bidang politik, bidang usaha, karyawan bahasa, bidang kesenian, dan bidang pendidikan. Khususnya dalam bidang pendidikan, para pendidik dalam tugasnya sadar atau tidak banyak terlibat dengan retorika. Keterlibatan ini tampak dari usaha memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Misalnya bahan pelajaran yang bagaimanakah yang diperlukan anak didik? Bagaimana cara menyajikan agar anak didik tertarik? Pemanfaatan retorika secara terarah tampak lebih menonjol pada proses pengajaran dalam kelas. Dalam proses ini guru berusaha menerapkan prinsip-prinsip pendidikan yang telah dipelajari sebelumnya. Penerapan ini biasanya sesuai dengan jenis pelajaran yang disajikan, kondisi anak didik, situasi sekolah, keadaan ekonomi politik dan sosial yang sedang berlangsung. Misalnya pemakaian bahasa, pemakaian peraga hendaknya disesuaikan dengan anak didik dan kemampuannya. Semua usaha yang direncanakan ini merupakan proses penerapan retorika baik dilakukan secara sadar maupun tidak.
            Pengajaran yang tidak memanfaatkan retorika, dapat menimbulkan kebosanan sehingga perhatian anak didik tidak tercurah pada bahan yang disajikan. Dengan demikian sukar membayangkan kalau bahan-bahan pengajaran itu akan membawa hasil yang diharapkan. Oleh sebab itu sebaiknya para pendidik memanfaatkan retorika dalam proses belajar mengajar. Guru yang cakap memanfaatkan retorika dalam tugasnya, disatu pihak ia akan disenangi oleh anak didiknya dan dilain pihak mereka akan berhasil sebagai seorang pendidik.
2.3  Pengertian Pidato
Pidato adalah suatu bentuk perbuatan berbicara di depan umum atau orang dalam situasi tertentu, untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu pula.
 Tahap persiapan piadato yaitu:
1.      Memilih topik dan tujuan
Sebelum kita berpidato kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yamg akan kita sampaikan dan tingkah laku apa yang akan diharapkan dari khalayak kita. Dengan singkat kita memerlukan pokok bahasan (topik) dan tujuan.
2.      Mengembangkan bahasan
Apabila topik yang baik sudah ditemukan, kita memerlukan keterangan untuk menunjang topik tersebut. Keterangan penunjang (supporting points) dipergunakan untuk memperjelas uraian, memperkuat kesan, menambah daya-tarik dan mempermudah pengertian.
Sesuai dengan cara yang dilakukan waktu persiapan, dapat dikemukakan empat macam pidato:
1.      Pidato Impromtu
2.      Pidato Manuskrip
3.      Pidato Memoriter
4.      Pidato Ekstempore
Impromtu apabila kita menghadiri pesta dan tiba-tiba dipanggil untuk menyampaikan pidato, pidato yang kita lakukan disebut impomtu. Bagi juru pidato yang berpengalaman impromtu memiliki beberapa keuntungan yaitu:
1.      Impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan berbicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak dapat memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikan.
2.      Gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup.
3.      Impromtu lebih memungkinkan kita terus berpikir.
Sedangkan kerugian dari pidato impromtu yaitu:
1.      Impromtu dapat menimbulkan kerugian yang mentah.
2.      Impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar.
3.      Gagasan yang disampaikan bisa “acak-acakan” dan ngawur.
4.      Karena tidak adanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali.
Manuskrip. Ini juga disebut dengan pidato naskah. Juru pidato membacakan naskah dari awal sampai akhir. Disini tidak berlaku istilah “menyampaikan pidato”, tetapi “ membacakan pidato”. Manuskrip diperlukan oleh kelompok nasional, sebab kesalahan kata dapat menimbulkan kekacauan dan berakibat jelek bagi pembicara.Keuntungan pidato manuskrip adalah sebagai berikut:
1.      Kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat mnyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang.
2.      Pernyataan dapat dihemat.
3.      Kefasihan berbicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan.
4.      Hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari.
5.      Manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak.
Ditinjau dari proses komunikasi, kerugiannya cukup berat :
1.      Komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak bebicara langsung kepada mereka.
2.      Pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik.
3.      Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan.
4.      Pembuatannya lebih lama dan sekedar menyiapkan garis-garis besarnya (outline).
Memoriter. Pesan pidato ditulis kemudian diingat kata demi kata. Seperti manuskrip, memoriter memungkinkan ungkapan yang tepat, organisasi yang berencana, pemilihan bahasa yang teliti, gerak dan isyarat yang diintegrasikan dengan uraian.
            Ekstempore. Ekstempore adalah jenis pidato yang paling baik dan paling sering dilakukan oleh juru pidato yang mahir. Pidato sudah dipersiapkan sebelumnya berupa out-line (garis besar) dan pokok-okok penunjang pembahasan (supporting points). Tetapi pembicara tidak mengingatkan kata demi kata. Keuntungan pidato ekstempore yaitu :
1.      Komunikasi pendengar dengan pembicara lebih baik.
2.      Pesan dapat fleksibel untuk diubah sesuai dengan kebutuhan dan penyajian lebih spontan.
Kerugian dari pidato ekstempore yaitu :
1.      Persiapan kurang baik apabila diburu-buru.
2.      Pemilihan bahasa yang jelek.
3.      Kefasihan yang terhambat karena kesukaran pemilihan kata dengan segera.
4.      Kemungkinan menyimpang dari out-line, dan
5.      Tidak dapat dijadikan bahan penerbitan.




















BAB III
PENUTUP
2.4  Simpulan
Menurut Aristoteles retorika adalah ilmu yang mengajarkan orang keterampilan menemukan secara persuatif dan objektif suatu kasus. Pada zaman Renaisance timbul dua aliran yaitu aliran humanisme dan ramisme. Retorika mencakup dua aspek yaitu, jalinan kata-kata dan pembawaan piadato dengan bahasa lisan maupun tulisan. Dengan demikian retorika mulai dari seni berbahasa lisan (pidato) ke seni berbahasa tulis. Pidato ialah  suatu bentuk perbuatan berbicara di depan umum atau orang dalam situasi tertentu, untuk tujuan tertentu dan kepada pendengar tertentu pula.Tahap persiapan pidato yaitu memilih topik dan tujuan serta mengembangkan bahasan. Sedangkan jenis-jenis pidato ialah impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstemporer.











DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaludin. 2011. Retorika Modern Pendekatan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Tarigan, Henry Guntur. 1979. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
Maidar, G Arsjad. Dan  U. S Mukti. 1993. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta : Erlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar