Jumat, 12 September 2014

KETERLAMBATAN KEMAMPUAN BERBICARA PADA ANAK



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sebenarnya, berbahasa dan atau berbicara merupakan aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Kegiatan berbicara dapat membantu seseorang atau kelompok sosial dalam berinteraksi dan saling memberikan informasi. Keterampilan berbicara mempunyai peranan sosial yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Maka dari itu, seseorang dapat berkomunikasi dengan baik apabila orang tersebut memiliki kemampuan dalam berbahasa dan berbicara. Sebaliknya, jika seseorang atau kelompok sosial tidak terampil dalam menguasai keterampilan berbahasa dan berbicara, maka proses komunikasi pun akan terjadi secara tidak efektif dan tidak efisien.
Keterampilan berbicara berhubungan erat dengan berbahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. (Tarigan, 2008:01). Kegiatan berbahasa erat kaitannya dengan pengembangan kosa kata yang diperoleh anak melalui latihan penggunaan bahasa. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa. (Tarigan, 2008: 03).
Keterlambatan berbicara dan berbahasa menyebabkan hambatan dalam kehidupan seperti bidang akademik dan hubungan sosial yang akan menimbulkan ketidakpercayadirian pada fsikologi seorang.
Gangguan bicara dan bahasa terdiri dari masalah artikulasi, masalah suara, masalah kelancaran berbicara (gagap), afasia (kesulitan dalam menggunakan katakata, biasanya akibat cedera otak) serta keterlambatan dalam bicara atau bahasa. Keterlambatan bicara dan bahasa dapat disebabkan oleh berbagai faktor termasuk faktor lingkungan atau hilangnya pendengaran.
Manusia pada umumnya dapat berbicara dan berbahasa kurang lebih dalam usia satu tahun. Pemerolehan bahasa pada anak dapat dilakukan dengan pelatihan pengembanganan kosa kata melalui kegiatan mendengarkan kata-kata dan menirukannya.
Gangguan bicara dan bahasa dialami oleh anak pada usia pra sekolah. Anak yang berusia 2 dan 3 tahun hampir sebagian banyak yang mengalami gangguan keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara dan kelemahan dalam menggunakan bahasa sering dijumpai diberbagai lingkungan sosial. Hal ini sudah seharusnya para orang tua membimbing dan membelajarkan bicara dan bahasa secara intensif dan berkesinambungan kepada anak.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan rumusan permasalahan sebagai berikut:
1.      Apa faktor-faktor penyebab keterlambatan kemampuan berbicara pada anak?
2.      Bagaimanakah karakteristik kata-kata yang diucapkan oleh anak yang mengalami gangguan bicara dan bahasa?
3.      Bagaimanakah perilaku berbahasa anak yang mengalami keterlambatan kemampuan berbicara?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan kemampuan berbicara pada anak.
2.      Untuk mengetahui karakteristik kata-kata yang diucapkan oleh anak yang mengalami gangguan bicara dan bahasa.
3.      Untuk mengetahui perilaku berbahasa anak yang mengalami keterlambatan kemampuan berbicara.
D.    Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat teoritis maupun praktis.
1.      Manfaat Teoritis
Secara teoritis makalah ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para orang tua dalam mengatasi masalah ketelambatan berbicara pada anak guna meningkatkan kemampuan keterampilan berbicara dan berbahasa.
2.      Manfaat Praktis
Secara praktis makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca adalah sebagai berikut :
1)      Makalah ini diharapkan bisa memberikan ilmu pengetahuan mengenai teori  dalam kajian permasalahan dan perkembangan keterampilan berbicara
2)      Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan rujukan bagi para pembaca yang notabene memiliki tugas yang sama untuk mengkaji masalah kemampuan berbicara pada anak.
3)      Pembaca diharapkan dapat mengetahui karakteristik, kondisi, dan faktor penyebab masalah keterlambatan berbicara pada anak bedasarkan hasil penelitian.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kajian Teoritis
1. Hakikat Bahasa
            Menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.
            Lain halnya dengan pendapat Kridalaksana (dalam Chaer, 2009:30). Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifiksakan diri. Sedangkan menurut Pateda (2011:06) bahwa yang dimaksud dengan bahasa adalah bunyi-bunyi yang bermakna.
Pendapat lainnya tentang definisi bahasa diungkapkan oleh Syamsuddin (1986:2), beliau memberi dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sisitem lambang bunyi yang arbitrer yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia sebagai wujud peradaban manusia.
2. Hakikat Berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. (Tarigan, 2008:16)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2008: 196) tertulis bahwa berbicara adalah “berkata, bercakap, berbahasa atau melahirkan pendapat (dengan perkataan, tulisan, dan sebagainya) atau berunding”.
Sty Slamet (2007:12) menjelaskan bahwa berbicara adalah kegiatan mengekspresikan gagasan, perasaan, dan kehendak pembicara yang perlu diungkapkan kepada orang lain dalam bentuk ujaran. Sedangkan menurut Sabarti Ahdiah (1992:3) berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Selanjutnya Nurhatim (2009:1) berbicara adalah bentuk komunikasi verbal yang dilakukan manusia dalam rangka pengungkapan gagasan dan ide yang telah disusun dalam pikiran.
Berdasarkan uraian pengertian berbicara di atas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengepresikan pikiran, gagasan, dan perasaan melalui secara lisan sebagai bentuk komunikasi verbal.
3. Masalah Berbicara
Dewasa ini semakin marak dengan hadirnya berbagai macam kelainan yang dialami manusia. Kita ketahui mungkin karena banyaknya penelitian yang dilakukan seiring dengan perkembangan jaman. Hal ini tidak dapat dielakkan lagi karena perkembangan pertumbuhan manusia sangat beragam.
Keterlambatan berbicara sebagai salah satu masalah dalam keteramplan berbahasa harus segera ditangani. Proses tindak ujar yang terlambat akan menghambat akses berkomunikasi dengan lingkungan sosial. Masalah bicara seperti keterlambatan memperoleh dan kesulitan mengeluarkan kata-kata menyebabkan gagalnya kegiatan berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah Broca  dan Wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnya menyebabkan terjadinya gangguan bahasa yang disebut Afasia. (Chaer, 2009:155).
4.Faktor Penyebab Keterlambatan Berbicara
Faktor penyebab keterlambatan berbicara merupakan segala hambatan yang menjadi penyebab terjadinya masalah bicara. Hal yang menjadi timbulnya masalah berbicara dengan kesulitan menggunakan kata-kata dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor keturunan, gangguan pendengaran, faktor kejiwaan, faktor orang tua dan lingkungan, faktor keterbatasan kemampuan kognitif, dan gangguan pervasif. Selain itu, faktor yang menyebabkan keterlambatan bicara terjadi karena pemerolehan kosa kata dan kesulitan menggunakan kata-kata yang disebut dengan afasia. Pada studi psikolinguistik, kajian afasia atau afasiologi dibedakan atas afasia ekspresi atau motorik, yang dikenal dengan sebagai afasia tipe Brocca dan afasia reseptif atau afasia sensorik yang dikenal sebagai afasia Wernicke. (Chaer, 2009:156).
Adapun jenis-jenis afasia menurut Chaer (2009:157) adalah sebagai berikut:
1. Afasia Motorik, meliputi:
a. Afasia Motorik Kortikal
b. Afasia Motorik Subkortikal, dan
c. Afasia Motorik Transkortikal
2. Afasia Sensorik
5. Perilaku Berbahasa Anak yang Mengalami Keterlambatan Berbicara
Anak yang mengalami keterlambatan berbicara dengan kesulitan menggunakan bahasa cenderung kehilangan kemampuan untuk membentuk kata-kata dan membentuk arti kata sehingga proses berbicara menjadi kurang lancar.
Perilaku berbahasa yang terjadi pada anak-anak yang mengalami keterlambatan berbicara dan sulit menggunakan bahasa dalam berkomunikasi menjadi tidak baik. Kata-kata yang dikeluarkan pada saat bicara sulit dipahami dan sering ditemukan mengulang-ulang kata atau kalimat. Mereka yang memiliki kemampuan bahasa yang tinggi umumnya menggunakan tema-tema yang terbatas dan sulit memahami konsep-konsep yang abstrak.




BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Teknik Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dan wawancara dengan mengambil kasus keterlambatan berbicara pada anak yang berusia 4 Tahun.
Observasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengamatan atau peninjauan secara cermat. Sedangkan, Alwasilah C, (2003:211) menyatakan bahwa, observasi adalah sebuah penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan realibitasnya. Pendapat lain, Hadi S, (dalam Sugiyono, 2005: 166)  mengemukakan bahwa observasi merupakan suatu proses yang komplek, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.
Teknik observasi ini sangat relevan digunakan dalam penelitian yang meliputi pengamatan kondisi anak, tingkah laku anak, perilaku berbahasa anak dan interaksi anak dengan lingkungan sosial. Pengamatan dapat dilakukan secara bebas dan terstruktur. Alat yang bisa digunakan dalam pengamatan ini adalah lembar pengamatan, catatan kejadian, dan lain-lain.
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah pelaku, objek, perbuatan, dan waktu. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku dan kondisi untuk menjawab pertanyaan, membantu menemukan perilaku berbahasa anak yang mengalami keterlambatan berbicara, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu dengan melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Teknik pengumpulan data yang dikumpulkan melalui penelitian ini meliputi data primer yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan orang tua anak menggunakan menggunakan bantuan kuesioner yang telah disiapkan.
Wawancara merupakan tanya jawab antara seseorang untuk mengetahui keterangan atau pendapat mengenai sesuatu hal. Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in-depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan social yang relatif lama (Sutopo 2006: 72).
Interview adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk-dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka  (face to face relation ship) antara si pencari informasi (interviewer atau informan hunter) dengan sumber informasi (interviewee) (Sutopo 2006: 74).
Beberapa hal yang diperhatikan dalam penelitian ini pada saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan verbalisasi. Pada waktu mencari informasi, peneliti melakukan wawancara dengan keluarga responden. Selanjutnya, peneliti mulai melakukan wawancara dengan pertanyaan yang mudah, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan yang sedang dan sulit. Beberapa pertanyaan menyangkut informasi fakta, perkembangan bahasa, kondisi anak, dan masalah-masalah yang dialami oleh anak dalam berbicara dan berbahasa serta memahami bahasa. Sebelum mengakhiri wawancara, peneliti mengulang kembali pertanyaan dan jawaban untuk klarifikasi, dilanjutkan dengan memberikan kesan dan kontrol emosi yang positif kepada responden.




  

BAB IV
HASIL PEMBAHASAN
A. Hasil Observasi dan Wawancara
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan terhadap anak yang mengalami keterlambatan berbicara dan bahasa yang bernama Intan Makaila Fakhiroh anak pertama dari pasangan Kustia Yulianasari dan Syahril menunjukkan bahwa Intan ini sangat sulit dalam mengucapkan kata-kata. Kata dan kalimat yang diucapkan oleh Intan kurang lancar dan kurang tepat.
Hasil wawancara kepada orang tua Intan dapat ditarik keterangan, bahwa Intan ini mulai dibelajarkan untuk berbicara pada usia 1 tahun. Beranjak pada usia 2 tahun, dia sudah bisa memanggil nama orang tuanya seperti ayah atau ibu dengan lancar. Namun, kata-kata lain yang diucapkan oleh Intan sulit dipahami seperti kata “motor” menjadi “motong”, kata “keluar” menjadi “keluang”, dan seterusnya. Kata-kata yang berawalan dan berakhiran huruf “R” sulit diucapkan oleh Intan. Kesulitan lain yang dialami oleh Intan dalam berbicara yakni sering ditemukan pengulangan kata atau kalimat dan penggunaan bahasa yang kurang efektif.
Pada usia empat tahun ini, Intan mengalami kesulitan mengekspresikan dirinya dalam berbicara. Tampaknya dia sangat ingin berkomunikasi. Namun, ia mengalami kesulitan luar biasa untuk menemukan kata-kata yang tepat. Di usia empat tahun ini, Intan hanya mampu berbicara dengan kalimat yang pendek. Kata-kata yang sudah dikuasai pada saat dibelajarkan kosa kata terlupakan ketika kata-kata yang baru dikuasai.
Alternatif untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri dalam berbicara. Menurut hemat penulis, hal ini dapat diatasi dengan berlatih secara intensif dan berkesinambungan melalui lingkungan sosial. Artinya, disini anak perlu diajak bersosialisasi di lingkungan sosial supaya dapat terbiasa menyimak kata-kata dan secara pelan-pelan ia akan menirukannya dan kata-kata tersebut dapat tersimpan di otak.
Di lingkungan sosial, Intan ini sangat sulit bersosialisasi dan berkominikasi dengan orang lain dikarenakan dia mengalami kesulitan dalam menggunakan kata-kata. Dia sering dibantu oleh orangtua dan orang-orang terdekatnya dalam menerangkan maksud pembicaraannya. Pemberdaharaan kosa kata yang diucapkan oleh Intan belum bisa dipahami oleh pendengar. Tingkat penggunaan struktur tata bahasa sangat di bawah tingkat anak seusianya. Sampai saat ini, Intan tidak henti untuk diajari dalam menggunakan kata-kata oleh orangtua dan orang-orang terdekat.




























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan :
1)      Hal yang menjadi timbulnya masalah keterlambatan berbicara dengan kesulitan menggunakan kata-kata dapat terjadi karena beberapa faktor seperti faktor keturunan, gangguan pendengaran, faktor kejiwaan, faktor orang tua dan lingkungan, faktor keterbatasan kemampuan kognitif, dan gangguan pervasif. Selain itu, faktor yang menyebabkan keterlambatan bicara terjadi karena pemerolehan kosa kata dan kesulitan menggunakan kata-kata yang disebut dengan afasia.
2)      Secara realita, kondisi anak yang mengalami masalah bicara seperti keterlambatan berbicara dan sulit menggunakan bahasa di lingkungan sosial, anak tersebut sulit bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Pemberdaharaan kosa kata yang diucapkan sulit dipahami oleh pendengar. Tingkat penggunaan struktur tata bahasa pun sangat di bawah tingkat anak seusianya.
B. Saran
Bertemali pada kesimpulan di atas, maka diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1)      Orang tua hendaknya memberikan pelatihan dalam berbicara dan menggunakan bahasa atau kata-kata pada anak sejak dini secara lebih intensif dan berkesinambungan.
2)      Orang tua hendaknya dapat memerhatikan perkembangan berbicara dan berbahasa anak sehingga tingkat kemampuan keterampilan berbahasa anak dapat terkontrol dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoritik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2007. Lingustik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Pateda, Mansoer. 2011. Linguistik Sebuah Pengantar. Bandung: Angkasa
Prasetyo, Dwi Nova.2011.Pengertian Observasi Penelitian. Diakses tanggal 10 Juni 2014. Tersedia di: http://novadwiprasetiyo.blogspot.com/2011/11/pengertian-observasi-penelitian.html

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian kuantitatife, Kualitatife, dan R & D. Bandung: ALFABETA. Diakses pada tanggal 10 Juni 2014. Tersedia di http://salimafarma.blogspot.com/.../metode-dan-teknik-pengumpulan-data.htm.

Smaradhipa, Galih. Bertutur dengan Tulisan. Diakses pada tanggal 9 Juni 2014. Tersedia di: http://www.rayakultura.com


Sutopo, HB. 2006, Metode Penelitian Kualitatif, Surakarta: UNS Press. Diakses pada tanggal 9 Juni 2014. Tersedia di: http://wismasastra.wordpress.com/2009/05/25/apa-bahasa-itu-sepuluh-pengertian-bahasa-menurut-para-ahli/

Syamsuddin, A.R. Sanggar Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka Jakarta. 1986. Diakses pada tanggal 9 Juni 2014. Tersedia di: http://wismasastra.wordpress.com/2009/05/25/apa-bahasa-itu-sepuluh-pengertian-bahasa-menurut-para-ahli/
Tarigan, Henri Guntur. 2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.




-----------2012. Keterampilan Berbicara. Diakses tanggal 9 Juni 2014. Tersedia di: http://profesor-fairuz.blogspot.com/2012/01/keterampilan-berbicara.html
-------------2011. Faktor-Faktor Yang Memnyebabkan Gangguan Berbicara. Diakses pada tanggal 9 Juni 2014. Tersedia di:.http://jalurilmu.blogspot.com/2011/12/faktor-faktor-yang-menyebabkan-gangguan.html#ixzz340JPc4LY





Selasa, 07 Mei 2013

KARAKTERISTIK BAHASA



 
Bahasa merupakan ujaran yang keluar dari alat ucap manuasia yang mempunyai bentuk bunyi dan makna. Bahasa yang baik yaitu bahasa yang  bisa menyusuaikan dengan suatu keadaan atau kondisi dimana kita sedang berbicara. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tersusun secara sistematis serta mempunyai pola yang jelas. Di setiap daerah pasti mempunyai bahasa yang berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lain, misalanya bahasa jawa, bahasa sunda, bahasa batak dan lain sebagainya. Ragam atau variasi bahasa tersebut dinamakan dengan dialek. Dalam bahasa, tentunya mempunyai ciri atau karakteristik yang akan memberikan corak bahwa bahasa itu hanya dimiliki oleh manusia.
Menurut Abdul Chaer (2007:33) menyatakan, “bahwa bahasa tidak lepas dari manusia, tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa.”
Oleh karena itu, dalam kesehariannya bahasa hanya dipergunakan manusia dalam berbagai aspek kegiatan. Bahasa dipergunakan manusia salah satunya untuk berkomunikasi. Dengan demikian, bahasa yang benar tentu memiliki esensi realitas yang menjadi bukti bahwa bahasa sudah disepakati dalam keberadaannya.
Ciri–ciri atau hakikat dari bahasa itu diantaranya yaitu bahasa adalah sebuah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu bermakna, bahasa itu arbiter, bahasa itu bersifat konvensional, bahasa itu produktif, bahasa itu unik, bahasa itu bervariasi, bahasa itu berkembang, bahasa itu dinamis, bahasa itu universal dan bahasa itu manusiawi. Dari ke dua belas rangkaian ciri-ciri bahasa itu, sudahlah jelas, bahwa bahasa memiliki variasi berbeda-beda yang kemudian akan membentuk suatu karakter, dari karakterteristik itulah bahwa bahasa hanya dimiliki oleh manusia.