Selasa, 07 Mei 2013

KARAKTERISTIK BAHASA



 
Bahasa merupakan ujaran yang keluar dari alat ucap manuasia yang mempunyai bentuk bunyi dan makna. Bahasa yang baik yaitu bahasa yang  bisa menyusuaikan dengan suatu keadaan atau kondisi dimana kita sedang berbicara. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tersusun secara sistematis serta mempunyai pola yang jelas. Di setiap daerah pasti mempunyai bahasa yang berbeda-beda antara daerah satu dengan yang lain, misalanya bahasa jawa, bahasa sunda, bahasa batak dan lain sebagainya. Ragam atau variasi bahasa tersebut dinamakan dengan dialek. Dalam bahasa, tentunya mempunyai ciri atau karakteristik yang akan memberikan corak bahwa bahasa itu hanya dimiliki oleh manusia.
Menurut Abdul Chaer (2007:33) menyatakan, “bahwa bahasa tidak lepas dari manusia, tidak ada kegiatan manusia yang tidak disertai bahasa.”
Oleh karena itu, dalam kesehariannya bahasa hanya dipergunakan manusia dalam berbagai aspek kegiatan. Bahasa dipergunakan manusia salah satunya untuk berkomunikasi. Dengan demikian, bahasa yang benar tentu memiliki esensi realitas yang menjadi bukti bahwa bahasa sudah disepakati dalam keberadaannya.
Ciri–ciri atau hakikat dari bahasa itu diantaranya yaitu bahasa adalah sebuah sistem, bahasa itu berwujud lambang, bahasa itu bermakna, bahasa itu arbiter, bahasa itu bersifat konvensional, bahasa itu produktif, bahasa itu unik, bahasa itu bervariasi, bahasa itu berkembang, bahasa itu dinamis, bahasa itu universal dan bahasa itu manusiawi. Dari ke dua belas rangkaian ciri-ciri bahasa itu, sudahlah jelas, bahwa bahasa memiliki variasi berbeda-beda yang kemudian akan membentuk suatu karakter, dari karakterteristik itulah bahwa bahasa hanya dimiliki oleh manusia.

Selasa, 19 Maret 2013

KAJIAN STRUKTURALISME PADA CERPEN “DUA HATI MENYATU”


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Setiap manusia pastilah memerlukan hiburan, namun keberagaman jenis hiburanlah yang menjadi pembeda antar setiap orang. Bagi orang-orang yang gemar membaca, membaca dapat menjadi sebuah arena hiburan yang mengasyikan. Baik itu adalah membaca karya ilmiah maupun karangan fiksi semata. Cerpen pada dasarnya merupakan sebuah karangan fiksi yang banyak digunakan oleh setiap orang sebagai salah satu wahana hiburan karena cerpen banyak mengandung unsur-unsur yang dapat menghilangkan kejenuhan tuk sesaat. Meskipun terlihat sederhana, namun mengupas tuntas sebuah cerpen dapat menjadi sebuah pembahasan yang menarik. Tak ubahnya seperti sebuah novel, cerpen dapat diteliti dengan menggunakan teori strukturalisme. Teori strukturalisme ini merupakan sebuah teori yang sudah cukup umum dikenal oleh setiap orang khususnya para pecinta sastra. Makalah ini secara langsung akan mengapresiasi sebuah cerpen yang berjudul Dua Hati Menyatu karangan Ikin Syamsudin Adeani ke dalam teori strukturalisme. Teori strukturalisme yang diambil oleh penulis adalah teori yang tidak hanya melihat sebuah karya sastra hanya dari unsur intrinsiknya saja namun juga berdasarkan unsur ekstrinsiknya. Sekilas mengenai teori strukturalisme bahwa Teori Strukturalisme genetik merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra.Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann.Kemunculan teori ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya. Strukturalisme genetik mencoba untuk memperbaiki kelemahan pendekatan Strukturalisme, yaitu dengan memasukkan faktor genetik di dalam memahami karya sastra.Strukturalisme Genetik sering juga disebut strukturalisme historis, yang menganggap karya sastra khas dianalisis dari segi historis. Goldmann bermaksud menjembatani jurang pemisah antara pendekatan strukturalisme (intrinsik) dan pendekatan sosiologi (ekstrinsik).
1.2. Rumusan Masalah

Dalam apresiasi cerpen ini, penulis telah merumuskan masalah yang akan menjadi bahan kajian pada makalah ini, yaitu sebagai berikut :
1.      Mengacu pada teori strukturalisme, tema apakah yang diusung dalam cerpen tersebut?
2.      Meninjau dari teori strukturalisme, unsur ekstrinsik pendidikan seperti apakah yang bisa diangkat dari cerpen tersebut?

1.3. Tujuan Penulisan Makalah

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Dengan adanya makalah yang berjudul Apresiasi Cerpen Dua Hati Menyatu dapat menginspirasi para pembaca mengenai bagaimana sebuah teori strukturalisme digunakan dalam mengupas tuntas sebuah cerpen.
2.      Penulis menginginkan makalah ini dapat menjadi bahan bacaan yang menarik bagi para pembaca khususnya bagi para pecinta cerpen.
3.      Penulis berharap makalah ini dapat menjadi bahan bagi para pembaca sebagai sebuah masukan untuk pengerjaan tugas yang sama.

1.4. Manfaat Penulisan

Penulis pada dasarnya menulis makalah ini bukanlah tanpa alasan dan manfaat yang jelas. Manfaat tersebut dapat ditujukan bagi para pembaca itu sendiri dan khusunya bagi penulis yang telah membuat makalah ini.



Ø  Bagi Penulis
-          Dengan menulis makalah ini, penulis setidaknya telah mengetahui bagaimanakah sebuah cerpen dapat dikupas habis dengan menerapkan sebuah teori yaitu teori strukturalisme.
-          Penulis telah mengetahui apa itu teori strukturalisme dan bagaimana penerapannya.
Ø  Bagi Pembaca
-          Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan yang menarik khusunya bagi para pecinta cerpen.
-          Makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan kajian bagi para pembaca yang notabene memiliki tugas yang sama untuk mengapresiasi sebuah cerpen.
-          Makalah ini dapat menjadi salah satu contoh real dalam mengapresiasi sebuah cerpen dengan menggunakan teori strukturalisme.
















BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.  Teori Strukturalisme
Dalam karya Saussure secara berurutan karya para penulis aliran Praha, strukturalisme muncul sebagai pendekatan terhadap linguistik. Namun dalam bentuk teori sosial, strukturalisme paling tepat didefinisikan sebagai penerapan model-model linguistik yang dipengaruhi oleh linguistik struktural untuk menjabarkan fenomena sosial dan kultural. “Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913)”. Dikutip dalam Pondok kajian ilmu social dan ilmu politik (2010).
Dalam konteks filosofis, strukturalisme berperan penting dalam meramu teori-teori pengetahuan yang berpusat pada wilayah bahasa maupun budaya. Oleh karenanya, epistemologi bahasa maupun budaya sangat inheren dalam merengkuh nilai-nilai kemanusiaan yang tercerabut pada wilayah interdisipliner.
Dalam pengembangannya, teori strukturalisme memiliki perkembangan karena dianggap masih mempunyai kekurangan. Teori ini berkembang menjadi Teori Strukturalisme genetic. Teori ini merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra. Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann. Kemunculan teori ini disebabkan karena adanya ketidakpuasan terhadap pendekatan strukturalisme, yang kajiannya hanya menitikberatkan pada unsur-unsur instrinsik tanpa memperhatikan unsur-unsur ekstrinsik sebuah karya sastra, sehingga karya sastra dianggap lepas dari konteks sosialnya.
Teori strukturalisme genetik bukan teori yang membahas tentang perbandingan antara dua karya sastra, melainkan teori yang cakupannya lebih luas daripada teori strukturalisme. Teori strukturalisme genetik merupakan teori tentang konsep – konsep sosial yang mendukung penciptaan karya sastra tersebut meskipun tidak semua aspek sosial akan mempengaruhi pengarang ataupun hasil karyanya. Penyebutan strukturalisme genetik merupakan cerminan bahwa strukturalisme genetik adalah penyempurnaan kembali dari generasi sebelumnya, yakni teori strukturalisme.
Secara lebih singkat, teori ini adalah teori yang membahas mengenai unsur yang ada dalam sebuah karya sastra, yaitu yang lebih dikenal dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Kedua aspek ini bukanlah hal baru dalam apresiasi sebuah karya sastra. Unsur intrinsik yang dibahas dalam makalah ini dibatasi pada tema, tokoh, alur, dan bahasanya. Sedangkan unsur ekstrinsik yang dipakai meliputi aspek pendidikan, psikologi, politik, maupun agama. Namun yang akan disoroti dalam permasalahan ini yaitu lebih ke aspek pendidikan dan psikologinya saja.
2.2 Pengertian Cerpen
H.B. Jassin –Sang Paus Sastra Indonesia- mengatakan bahwa yang disebut cerita pendek harus memiliki bagian perkenalan, pertikaian, dan penyelesaian.
A. Bakar Hamid dalam tulisan “Pengertian Cerpen” berpendapat bahwa yang disebut cerita pendek itu harus dilihat dari kuantitas, yaitu banyaknya perkataan yang dipakai: antara 500-20.000 kata, adanya satu plot, adanya satu watak, dan adanya satu kesan. Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah salah satu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insightsecara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.  Sedangkan Menurut Sumardjo dan Saini Cerpen atau cerita pendek adalah cerita atau narasi  fiktif yang dibuat relatif singkat atau pendek.
·         Ciri-Ciri Cerpen
Ciri-ciri cerita pendek menurut pendapat Sumarjo dan Saini adalah sebagai berikut:
a.       Ceritanya pendek ;
b.      Bersifat rekaan (fiction) ;
c.       Bersifat naratif ; dan
d.      Memiliki kesan tunggal.
·         Pendapat lain mengenai ciri-ciri cerita pendek di kemukakan pula oleh Lubis sebagai berikut :
a.       Cerita Pendek harus mengandung interprestasi pengarang tentang konsepsinya mengenai kehidupan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
b.      Dalam sebuah cerita pendek sebuah insiden yang terutama menguasai jalan cerita.
c.       Cerita pendek harus mempunyai seorang yang menjadi pelaku atau tokoh utama.
d.      Cerita pendek harus satu efek atau kesan yang menarik.
·         Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur intrinsik Cerpen adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup:
Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
·         Unsur Ekstrinsik Cerpen
Unsur ekstrinsik Cerpen adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
        i.            Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
      ii.            Latar belakang kehidupan pengarang
    iii.            Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan
Analisis aspek unsur ekstrinsik ialah analisis karya sastra itu sendiri dari segi isinya, dan sepanjang mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan di luar karya sastra itu sendiri (Sugiarti, 2007: 22).Aspek ekstrinsik terdiri dari aspek sosial, budaya, ekonomi, agama, maupun pendidikan
2.2.        Tema
Tema sebagai salah satu unsur penting dalam sebuah karya sastra. Mentukan sebuah tema bukanlah sebuah hal yang cukup mudah dikarenakan tema itu selalu bersifat abstrak yang tidak dapat terlihat dan hanya bisa dirasakan. Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. (wikipedia.com).
Dalam novel dan cerpen, tema dapat dilihat melalui persoalan-persoalan yang dikemukakan, cara-cara watak itu bertentangan antara satu sama lain, bagaimana cerita diselesaikan, semuanya menentukan rupa tema yang dikemukakan oleh pengarang. Justru, pokok persoalan atau tema merupakan pengertian yang terkandung di sebalik sesebuah karya.
Persoalan pula ialah perkara-perkara kecil dalam sesuatu karya yang ada hubungannya dengan tema. Persoalan yang pelbagai diwujudkan dalam sesuatu karya bertujuan untuk menghidupkan serta memperkukuh tema yang cuba diketengahkan oleh pengarang.
2.3 Nilai Pendidikan
              Nilai pendidikan yaitu nilai-nilai yang berkenaan dengan hal-hal yang mengandung ajaran-ajaran yang dapat kita contoh dalam kehidupan sehari-hari.






BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Sinopsis
DUA HATI MENYATU
Ita adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di sebuah kota. Dia rajin, pandai, dan tidak pernah membolos kuliah demi alasan apapun. Maka tidak heran jika teman-temannya memanggil namanya dengan bermacam panggilan, sok rajinlah, sok alimlah, dan sok-sok yang lain. Bagi Ita itu tak masalah, selama tidak mengganggu kehidupannya. Tak sadar, Ita sebenarnya memendam suatu rasa yang tidak biasa. Ya, cinta. Dia mencintai seorang dosen pengendara avanza. Namun apalah daya, dia tidak percaya diri untuk mengungkapkan semua itu. Tak dinyana, ternyata dosen itu (Dena) juga mencintai Ita. Eci, yang sudah melihat gelagat mereka ingin mempersatukan mereka. Suau hari, pada saat itu perkuliahan ernyata libur. Namun Ita tetap pergi ke kampus, dia bertemu Dena. Jantungnya berdegup kencang. Dena mengajaknya untuk pulang dan mengantarnya sampai rumah. Namun Ita menolaknya dengan alasan dia akan mengunjungi Eci. Timbul penyesalan Ita karena menolak ajakan sang dosen. Sesampai di rumah Eci, Ia terkejut mendapati Eci tengah bersama Dena, tanpa disangka ternyata Dena adalah paman Eci. Dua hati pun menyatu.


3.2. Pembahasan
Ø  Unsur Intrinsik
Tema
Setiap karya sastra tidaklah pernah terlepas dari yang namanya tema. Dalam setiap karya sastra pastilah kita sering menemukan tema. Tema adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair dalam karyanya. Tema  biasanya  mengacu kepada penyairnya, maka untuk menafsirkan tema yang terdapat dalam cerpen tersebut sedikit banyak pembaca harus mengetahui latar belakang penyairnya. Karena itu tema bersifat subjektif (mangacu pada penyair), objektif (semua penafsir harus menafsirkan sama), dan lugas (bukan makna kias).
            Adapun tema yang diangkat dalam cerpen Dua Hati Menyatu itu yaitu sudah jelas mengenai percintaan. Dalam cerita ini, menceritakan kisah percintaan antara seorang mahasiswi dengan seorang dosen muda. Kisah cinta mereka merupakan kisah penyatuan dua hati yang berbeda oleh sahabat sekaligus keponakan dari dosen tersebut.
Cerita yang diangkat dalam cerpen ini cukup menarik karena penulis membuatnya dalam bahasa sehari-hari yang mudah untuk dimengerti. Tema kadang kala berhimpitan dengan pokok pikiran, tapi tema lebih luas jangkauannya dan bersifat abstrak. Menentukan tema pada cerpen ini juga tidak begitu sulit karena penulis dengan gamblangnya bercerita tentang kisah kasih antara seorang mahasiswi dengan seorang dosen. Hal tersebut sangat membantu pembaca dalam menentukan tema yang sedang diusungnya. Penggunaan bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah untuk dimengerti menjadi hal yang dapat membantu pembaca memahami tema yang diangkat dalam cerpen tersebut. Penggunaan simbolisasi kalimat dalam cerpen tersebut juga tidak begitu sulit untuk dimengerti, seperti dalam paragraph terakhir hal.31 terdapat kalimat “awan-awan tampak mulai memutih sambil berarak dilatarbelakangi kebiruan langit”, dan “kupastikan ombak-ombak pun akan bersorak bahagia menyambut ketulusan cinta kami berdua.” Kedua kalimat tersebut merupakan simbolisasi dari kebahagiaan yang dialami oleh Ita dan Dena dalam cerita tersebut. Hal tersebut juga menjadi salah satu pendukung dalam menentukan tema dari cerpen tersebut.

Ø  Unsur Ekstrinsik
Pendidikan
Dalam setiap karya sastra, unsur pendidikan tidak pernah terlepas dan selalu dijadikan unsur penting dan pendukung dalam membangun sebuah karya sastra yang baik. Sebuah karya sastra akan dinilai baik apabila karya tersebut memiliki dan mengandung unsur pendidikan di dalamnya. Berkaitan dengan tema yang telah dibahas diatas, tema percintaan tak selalu berakibat negatif, namun bergantung pada bagaimana kita menyajikan sebuah cerita yang bertema percintaan namun dengan tetap memperhatikan etika berbahasa yang santun sehingga jauh dari sifat erotisme. Cerita ini menyajikan cerita mengenai kisah cinta seorang mahasiswi dengan seorang dosen namun masih dalam lingkup yang wajar dan santun. Sehingga, bukan hanya cerita cinta yang ditonjolkan, namun segi pendidikan berbahasa juga mempunyai peran yang penting dalam sebuah karya sastra dan cerpen Dua Hati Menyatu ini sudah memperlihatkannya.
Selain dari pada itu, unsur pendidikan yang dapat diangkat dari cerpen Dua Hati Menyatu ini, cinta memang bisa terjadi pada siapa saja entah itu mahasiswa, dosen, maupun pejabat sekalipun, namun hal tersebut adalah lumrah adanya. Tinggal bagaimana kita menghadapi situasi tersebut dengan bijak. Seperti yang diperlihatkan oleh bapak dosen dan mahasiswi yang disukainya tanpa mereka memperlihatkannya di depan public terutama di depan teman-teman mahasiswanya. Hal tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kita, bahwa cinta itu dapat direalisasikan dengan cara yang wajar dan santun.








BAB IV
PENUTUP

1.1. Simpulan
·         Teori Strukturalisme genetik merupakan teori yang berada di bawah payung sosiologi sastra. Strukturalisme genetik lahir dari seorang sosiolog Perancis, Lucien Goldmann.
·         Teori strukturalisme bukan teori yang membahas tentang perbandingan antara dua karya sastra, melainkan teori yang cakupannya lebih luas daripada teori strukturalisme.
·         Unsur Intrinsik :
-          Tema
-          Tokoh
-          Alur
-          Bahasa
·         Unsur Ekstrinsik :
-          Pendidikan
-          Psikologi

1.2. Saran
Dalam menyajikan sebuah makalah hendaklah dipersiapkan kajianpustaka yang lebih banyak sehingga akan memberikan kemudahan tersendiri bagi penulis untuk menyusun makalah dengan sedemikian rupa.

DAFTAR PUSTAKA

Guntur. 2012. Teori Sastra Bahasa Indonesia. Diunduh dari : http://pendekatanekspresif.blogspot.com/2012/04/pengertian-dan-sejarah-teori.html
Nugriyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Sastra.Yogyakarta : Gajah Mada University Press
Sugiarti, Sri. 2007. Bahasa dan Sastra Indonesiakelas X. Yogyakata : Erlangga